-->

FOZ adalah Asosiasi Organisasi Pengelola Zakat Indonesia berfungsi sebagai wadah berhimpunnya BAZ dan LAZ di Indonesia. berdiri pada hari Jumuat Tanggal 19 Sep 1997
Hadiri dan Ramaikan World Zakat Forum Days 2010 di Yogyakarta 28th September - 2nd Oktober klik di sini
Tampilkan postingan dengan label gagas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gagas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2009

Kritis Di Saat Krisis

* Herman Susilo
Bisa jadi ini adalah yang pertama sepanjang hidup kita, memasuki tahun baru dalam kondisi krisis finansial global yang cukup parah. Di pasar uang dunia saat ini terdapat gelembung uang yang berjumlah 80 triliun dolar AS pertahun. Jumlah ini 20 kali lipat melebihi nilai perdagangan dunia yang jumlahnya sekitar 4 triliun dolar AS pertahun. Artinya, gelembung itu bisa membeli segala yang diperdagangkan sebanyak 20 kali lipat dari dimensi yang biasa. (Liem Siok Lan, Desember 2008). Bisa dibayangkan berapa juta orang, komunitas, entitas bisnis, ataupun korporasi yang akan menjadi korban jika gelembung itu pecah.

Sebagian orang berseloroh, “Ah apa pedulinya?! Toh sahabat-sahabat kita para pedagang kecil tidak merasakan langsung dampak krisis finansial yang katanya lebih buruk daripada depresi ekonomi tahun 1929 itu.” Saya ingin mengajak kita berpikir sejenak. Tidak ada salahnya kan jika kita bercermin atas tragedi ekonomi terbesar di penghujung tahun 2008 ini? Hal terpenting adalah sikap kritis kita terhadap krisis yang telah melahirkan kondisi kritis pada sebagian orang. Mari bersikap kritis di saat krisis.

Gaya Hidup Riba
Setidaknya ada 7 alinea penting yang menjadi wasiat Rasulullah Muhammad SAW saat beliau berkhutbah pada Haji Wada’. Khutbah perpisahan di padang Arafah di hadapan 124.000 umat Islam pada musim haji tahun 10 H atau 630 M.

Saya ingin menukilkan alinea pertama saja dari khutbah Beliau SAW. Berikut kutipannya, “Wahai manusia, dengarkan penjelasanku baik-baik, karena aku tak tahu apakah setelah tahun ini aku masih berada di tengah kalian atau tidak. Wahai manusia, sebagaimana engkau menghargai bulan ini, hari ini dan kota ini sebagai sesuatu yang suci, maka hargai pulalah jiwa dan harta sesama Muslim sebagai amanat yang suci. Kembalikan harta yang dititipkan kepadamu kepada pemiliknya yang sah. Janganlah menyakiti sesama agar engkau tak disakiti. Janganlah makan riba karena riba itu haram bagimu.”

Inilah alinea pertama, riba itu haram! Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk menghargai jiwa dan harta sesama muslim, mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam urusan harta itu dan jangan sampai menyakiti jiwa orang lain. Puncak larangan dalam transaksi harta yang bisa berakibat menyakiti jiwa itu adalah riba. Riba menjadikan seseorang tamak terhadap harta, berusaha mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya di atas penderitaan orang lain.

Waktu saya kecil, ada seorang tetangga yang harus kehilangan rumah karena tidak bisa mengembalikan uang pinjaman plus bunganya kepada tetangga yang lain. Keluarganya menjadi terlunta-lunta, hidupnya pun makin sulit dan berantakan. Itu skala kecil dan tradisional, bagaimana jika skalanya besar dan modern?

Sejak Goldsmith menggantikan alat tukar emas/perak menjadi kertas, gaya hidup riba menjadi makin kompleks dan modern. Uang kertas yang tidak bernilai intrinsic itu telah menjadi nadi dalam transaksi bisnis multi sektor. Dengan kata lain transaksi bisnis dan perdagangan dikuasai oleh uang.

Sederhananya begini, orang yang menyimpan uang di bank diberi bunga tertentu (misal 5%), uang yang terkumpul itu dipinjamkan kepada orang lain dengan bunga lebih tinggi (misal 10%). Dari margin bunga itulah bank mendapatkan keuntungan. Pusat perekonomian tidak lagi ada di pasar melainkan di bank. Membeli rumah, kendaraan bermotor bahkan membangun gedung bertingkat bisa terwujud jika meminjam pada bank. Kenyataannya praktek simpan dan pinjam uang berbunga itu sangat kompleks, beragam jenisnya, modern, canggih, dan sebagiannya kebablasan!

Salah satu produk bank yang menjadi gaya hidup adalah kartu kredit. Benda magnetik/chip kecil itu dianggap ‘sakti’ dan menjadi pendukung gaya hidup berhutang di berbagai sektor. Tak ada tunai ya gesek saja. Berbagai fasilitas, kemudahan, dan keunggulan-keunggulan ditawarkan. Mendapatkannya pun makin mudah.

Tragedi kartu kredit terbesar sepanjang sejarah dunia, terjadi di Amerika. Puncaknya ketika 1 kepala keluarga di Amerika Serikat bisa memegang 10 kartu kredit. Akibatnya menurut perkiraan Federal Reserve, tagihan kartu kredit warga AS menyentuh angka 1 miliar dollar AS. Dan dari jumlah itu hampir 50 juta orang Amerika dirundung kesulitan tagihan dari bulan ke bulan. Hingga di penghujung bulan mereka kelimpungan membayar pokok hutang plus bunga untuk sewa apartemen, makanan, BBM dan ongkos layanan kesehatan (Elizabeth Warren, Profesor Hukum dan pakar hutang dari Harvard University).

Sikap kritis pertama saat krisis adalah jika belum benar-benar darurat buat apa berhutang?

Gaya Hidup Zakat
Sebaliknya, gaya hidup zakat mengajarkan orang untuk produktif, menghidupkan sektor riil, memberdayakan mustahik, dan mencegah pemiliki harta berperilaku tamak. Zakat pun menuntut orang untuk pandai mendayagunakan harta. Diriwayatkan dari Yusuf bin Mahak Rasulullah SAW bersabda, “Perniagakanlah harta anak yatim agar tidak habis oleh zakat.” (HR. Asy-Syafi’i dan Al-Baihaqi)

Seseorang dituntut untuk memperniagakan harta simpanannya agar tidak habis oleh zakat. Contoh, jika Anda memiliki simpanan 90 g emas di tahun pertama, maka di tahun kedua emas Anda berkurang menjadi 87,75 g karena kewajiban mengeluarkan zakatnya 2,5%. Begitu seterusnya jika simpanan Anda itu tidak diperniagakan.

Kewajiban zakat harta bisa ditanggulangi dananya dengan diperniagakan, sebab jika tidak maka harta tersebut akan habis termakan zakat dan biaya-biaya keseharian. Inilah dasar pemikiran yang mendukung ide untuk mendayagunakan harta secara ekonomis.

Kemudian zakat juga tidak boleh dibayarkan dari hutang karena syarat utamanya adalah kepemilikan penuh bukan hutang. Oleh karena itu gaya hidup zakat mengharuskan orang memiliki harta sebenarnya bukan harta semu (hutang). Hal itu mendorong seseorang untuk tidak berperilaku konsumtif. Mempergunakan harta dengan bijak yaitu mengeluarkan kewajiban zakatnya dan memperniagakan sebagiannya agar mendapat keuntungan (profit making).

Sikap kritis berikutnya adalah gaya hidup zakat membuat orang lebih produktif.

Akhirnya Selamat Tahun Baru 1430 H dan 2009 M. Semoga tahun ini menjadi momentum kritis bagi kita untuk terhindar dari krisis. Tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Amien.

*) Pemimpin Redaksi Majalah inFOZ+


'Zakat Perlu Jadi Agenda Pemerintah Atasi Dampak Krisis'

Andi Rahmat
Anggota Komisi XI DPR


Kondisi saat ini, pengembangan zakat oleh pemerintah wajib dilaksanakan. Sebab meng-enforce zakat oleh pemerintah merupakan mandatory..

Krisis ekonomi global yang berpusat di AS terus menghantam berbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Meski pemerintah optimistis hingga kuartal terakhir bisa menjaga tingkat pertumbuhan pada kisaran enam persen, hal serupa mungkin sulit terealisasi tahun depan. Hal itu karena dampak krisis global yang memukul sejumlah sektor semakin terasa. Kondisi ini bisa menyebabkan semakin banyak perusahaan memangkas biaya produksi dan mungkin saja berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) banyak warga.

Menurut Anggota Komisi XI DPR Andi Rahmat, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kuartal ketiga tahun lalu memang masih cukup tinggi berada pada level 6,1 persen. Sedangkan, data pertumbuhan ekonomi hingga kuartal terakhir tahun lalu masih belum diterbitkan pemerintah. Data itu baru diterbitkan tahun ini dan diprediksi masih berada pada kisaran enam persen. ''Kemungkinan besar krisis global akan berpengaruh cukup kuat terhadap pertumbuhan ekonomi hingga kuartal terakhir 2008 tapi memang terbantu oleh liburan akhir tahun dan tahun baru dimana banyak masyarakat mengeluarkan belanja,'' ujar anggota komisi perbankan dan keuangan ini kepada Infoz+, Jumat, (2/1).

Namun, proyeksi angka pertumbuhan sepanjang 2009 tidak bisa menggunakan angka optimistis seperti tahun lalu. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan besar mengalami penyusutan karena ikut terkena dampak krisis keuangan global yang menghantam berbagai industri di tanah air. ''Tahun ini, kita mengarah kepada penyusutan ekonomi Indonesia. Hampir semua negara di dunia mengalaminya,'' kata Andi yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2009 berada pada level sekitar empat persen.

Penyusutan tersebut wajar terjadi karena memang ekonomi Indonesia memiliki hubungan saling mempengaruhi dengan ekonomi global. Bahkan, dampak krisis global sebetulnya mulai dirasakan sebagian warga tanah air sejak tahun lalu saat beberapa perusahaan mulai memangkas biaya produksi dan tenaga kerja agar tetap bertahan. Sejumlah perusahaan yang melakukan langkah ini umumnya yang paling terkena dampak krisis yakni yang bergerak di sektor manufaktur. Hal itu karena berkurangnya pengiriman ekspor ke AS dan Eropa karena mengalami perlambatan ekonomi.

Selain itu, terdapat sebagian perusahaan yang menggunakan bahan baku impor dengan harga yang cenderung meningkat akibat terus melemahnya rupiah terhadap dolar AS. Hal ini terjadi karena banyak investor asing menarik dana di Indonesia untuk menutupi kerugian perusahaan induk di negara asal agar tetap bisa bertahan dalam berbisnis. ''Sektor yang paling besar terkena dampak adalah manufaktur,'' kata anggota DPR dari FPKS ini.

Meski terjadi PHK pada sejumlah perusahaan, jumlahnya tidak masif. Namun, banyak ekonom dan pengamat yang memperkirakan pemangkasan tenaga kerja tahun ini akan berlangsung secara masif oleh banyak perusahaan. Hal itu karena krisis keuangan global dan dampaknya diprediksi kuat masih akan menghantam dunia termasuk Indonesia tahun ini. ''Meski saya dengar pengusaha berkomitmen menjadikan PHK sebagai langkah terakhir. Tapi, tekanan (krisis) bagi industri merupakan fakta yang tidak bisa mereka abaikan,'' katanya.

Mengenai PHK, Andi memperkirakan masa cobaan akan terjadi pada periode Februari hingga Mei mendatang. Periode itu merupakan masa berbagai perusahaan mengisi persediaan utama agar bisnis tetap berjalan. Hal itu sehingga menjadi momen pengeluaran biaya cukup besar sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya PHK di tengah kondisi krisis global saat ini.

Dampak krisis global juga akan terasa pada penetapan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun ini. Sumber pendanaan kegiatan pemerintah itu kemungkinan akan mengalami penyusutan. Salah satunya adalah akibat penurunan pendapatan pajak di sektor pertambangan. Selain itu, pendapatan pajak bersumber sektor lain juga kemungkinan mengalami penurunan. Hal itu karena menurunnya pendapatan perusahaan secara otomatis berpengaruh pada pembayaran pajak.

Namun, Andi menyebutkan prediksi pertumbuhan empat persen tahun ini masih cukup bagus. Terlebih, banyak negara di dunia yang telah masuk dalam jurang resesi ekonomi tahun lalu. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia didasarkan pada sejumlah pertimbangan. Salah satunya adalah karena fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih cukup bagus. Hal itu terjadi karena sepanjang 1998 hingga 2006 konsolidasi industri tanah air berjalan cukup baik.

Selain itu, tercapainya proyeksi pertumbuhan empat persen juga sangat bergantung pada upaya pemerintah dalam menyikapi dampak krisis global atas Indonesia. Pemerintah perlu mendorong berbagai kebijakan pro pemenuhan dan perkembangan kebutuhan domestik. ''Namun, pintar-pintarnya pemerintahlah agar Indonesia tidak dituding melakukan upaya proteksionis,'' ujar Andi.

Pemerintah juga perlu memberikan berbagai insentif bagi pengembangan sejumlah industri padat karya. Selain itu, peningkatan dukungan terhadap perkembangan zakat di Indonesia juga perlu menjadi salah satu agenda utama pemerintah sebagai upaya menghadapi krisis dan banyaknya PHK. Hal itu karena besarnya potensi zakat tanah air bisa dimanfaatkan untuk mendorong pengembangan ekonomi prodktif bagi masyarakat miskin yang terus meningkat akibat menjadi korban PHK.

Andi mengakui saat ini memang pengembangan zakat oleh berbagai pihak masih belum menjadi fokus utama (mainstream). Hal itu disebabkan belum optimalnya kesadaran banyak pihak mengenai potensi zakat bisa menyelesaikan banyak persoalan sosial terutama masalah pengentasan kemiskinan. Meski demikian, pemerintah tidak bisa berpangku tangan berdiam diri tidak mendorong perkembangan dana amanah masyarakat ini.

Saat ini zakat, menurut Andi, telah menjadi salah satu sistem dari penyelenggaraan negara karena telah diatur dalam beberapa undang-undang. Di antaranya adalah UU Perbankan Syariah dan UU Pajak. Dalam kedua UU itu, pemerintah tidak bisa lagi mengabaikan pengembangan zakat sebagai salah satu upaya mengentaskan kemiskinan. ''Jadi, secara faktual pemerintah mau tidak mau harus mengimpelementasikan zakat sebagai bagian dari sistem penyelenggaraan negara,'' katanya.

UU Perbankan Syariah memperkenankan bank tanpa bunga untuk menjaring dan menyalurkan zakat. Selain itu, dalam menjalankan operasi bisnis, bank syariah wajib memberitahu nasabah mengenai pemotongan sebagian dana untuk kepentingan zakat. Hal ini berarti bank dituntut untuk menerapkan prinsip keterbukaan kepada nasabah. Sedangkan, UU Pajak saat ini mengakui zakat sebagai salah satu instrumen sosial pengentasan kemiskinan. Karena itu, penerapan pengembangan zakat oleh pemerintah wajib dilaksanakan. ''Jadi, meng-enforce zakat oleh pemerintah merupakan mandatory (tugas wajib),'' ujar Andi.

Selain itu, di Indonesia, potensi zakat sangat besar bila dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat secara teratur dan sistematis. Sedangkan, penyaluran dana zakat itu dilaksanakan tepat sasaran. Sebagai contoh, saat ini pengenaan pajak penghasilan (PPh) 21 bagi pribadi telah memberikan kontribusi triliunan rupiah bagi masyarakat. Bila dihitung 2,5 persen sebagai ketetapan wajib zakat, maka dana terhimpun cukup besar. Dengan demikian, upaya mengatasi dampak krisis global melalui zakat pengentasan kemiskinan perlu didukung dan terus dikembangkan. ''Belum lagi bila kita masukkan PPh badan yang melakukan kegiatan usaha di sektor kekayaan alam. Sektor ini kan zakatnya besar. Karena itu, dana zakat yang bisa terkumpul menjadi lebih dan sangat besar,'' kata Andi. bai

Senin, 10 November 2008

Menjawab Krisis dengan Program

Herman Susilo*
Mana yang lebih banyak, orang miskin yang lari ke masjid atau yang menjadi pengemis, pelacur, perampok? Dalam kondisi tertekan, manusia memiliki pilihan-pilihan baik positif maupun negatif, namun kecenderungan yang diambil lebih banyak negatif karena keterpaksaan. Perangai seorang penganggur pasti berbeda dengan mereka yang bekerja. Seorang kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan berpotensi membawa konflik dalam keluarga yang dipimpinnya.


Yah, cita-cita membangun karakter bangsa terhambat oleh krisis ekonomi berkepanjangan. Jangankan menjadi bangsa religius, untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup saja susahnya ampun-ampun. Kefakiran dan kemiskinan yang mendera cenderung menjadikan orang bertindak jahat bahkan menjurus pada kufur. Segala cara didemonstrasikan orang fakir demi memenuhi hajat dasar hidupnya. Mungkin itulah kenapa Rasulullah SAW mengingatkan kita, “Kaadal faqru an yakuuna kufran.” Kefakiran itu mendekatkan seseorang pada kekufuran.

Jutawan Saja Merana
Dahulu, kata jutawan memiliki konotasi kaya raya. Tapi saat ini apakah konotasi itu masih berlaku?
Ambil contoh, seorang pegawai swasta di Jakarta yang berpenghasilan Rp 1.300.000 (terbilang: satu juta tiga ratus ribu rupiah) per bulan bisa disebut jutawan karena penghasilannya di atas Rp 1 juta per bulan. Apakah dia kaya raya? Tidak! Kenyataannya hidupnya masih penuh dengan keluhan. Untuk makan di warung tegal saja Rp 10.000 sekali makan. Bayangkan kalau dia punya istri dan dua anak, berarti harus punya 3 x Rp 40.000 per hari untuk makan.

Di samping itu dia juga harus bayar uang sekolah dan sewa rumah. Untuk sewa rumah sangat sederhana sekali sampai-sampai selonjor saja sulit (RSSSSSSSSS), rumah petak ukuran 20 meter persegi saja bisa mencapai Rp 350.000 per bulan, belum ongkos transportasi ke tempat kerja Rp 100.000 – 200.000.
Jadi tak ada lagi jutawan kaya raya saat ini. Karena makan saja harus dihemat, tinggal di rumah petak sederhana, anak tidak bisa sekolah di sekolah favorit (apalagi di universitas yang uang pangkalnya bisa mencapai puluhan juta rupiah). Dan kalau perlu istri pun harus bekerja untuk memperoleh tambahan penghasilan keluarga.
Nah, kalo jutawan saja merana, bagaimana pula dengan mereka yang tidak punya penghasilan? Orang-orang fakir dan miskin. Harap dicatat angka kemiskinan di negeri kita saat ini adalah 40 juta orang. Fantastis!

Kesejahteraan Semu
Ironinya ada sebagian pihak yang hanya bangga dengan naiknya GDP Indonesia. Menurut catatan statistik ekonomi Indonesia Gross Domestic Product (GDP) antara tahun 2000 sampai 2006 tumbuh sekitar 3% - 7% per tahunnya dari US$ 880 per kapita menjadi US$ 1.490 (US$ 1 = Rp 9.150). Kalau dihitung dengan US$ selama 6 tahun GDP per kapita Indonesia naik 69%!!!

Itu hanyalah catatan, namun apakah hal itu menjadikan Indonesia lebih sejahtera? Mengapa justru makin banyak orang sengsara? Beban hidup semakin berat, hingga perlu ada pembagian beras miskin (raskin) dan operasi pasar? Harga bahan pokok dan non-pokok naik berlipat ganda walapun tingkat inflasi (katanya) hanya sekitar 5% (tetapi pernah 17% sekali dalam kurun waktu 5 tahun itu). Dalam 5 tahun belakangan ini harga beras sudah naik dua kali lipat. Begitu pula jagung, gula, minyak goreng, minyak tanah, coklat, kedele, ikan asin dan sederet lagi.

Kalau tolok ukurnya diganti dengan emas maka GDP per kapita tahun 2000 adalah 99 gram emas, sedangkan tahun 2006 turun menjadi 71 gram emas. Emas naik dari Rp 100.000 per gram di tahun 2000 menjadi Rp 200.000 per gram di tahun 2007. Dalam ukuran emas, GDP per kapita Indonesia turun 29%! Kalau kita percaya bahwa emas mempunyai korelasi dengan harga barang maka wajar kalau kualitas hidup, kualitas kemakmuran turun 29%. Kesejahteraan yang semu!

Jawablah (Sebagiannya) dengan Program
Lalu, apa yang harus dilakukan? Ini adalah PR pemerintah. Krisis ekonomi yang menciptakan kemiskinan disebabkan oleh sistem, dan hanya bisa diselesaikan dengan sistem pula. Bukan sistem yang hanya melindungi para pemilik modal dan meniadakan orang-orang yang tak memilikinya. Menyuntik dana besar-besaran di sektor finansial dan menyepelekan sektor riil. Bukan pula sistem yang hanya menghimpun dana masyarakat untuk sebesar-besar belanja rutin dan pegawai saja, jika ada sisanya barulah dibuat program untuk orang miskin. Bukan, bukan itu! Tetapi ia adalah sistem yang mampu menyerap kelebihan harta sebagian orang untuk orang lain yang kurang beruntung (baca: pemerataan).

Sejatinya itulah di antara peran zakat! Dimensi zakat bukan hanya menghimpun dan menyalurkan saja. Namun ada pesan kuat untuk pemerataan kesejahteraan. Sistem zakat tidak membiarkan kesejahteraan terjadi hanya pada orang-orang kaya saja. Tetapi dirasakan pula oleh orang-orang miskin yang kurang beruntung. Sederhanya, jika si miskin berdaya dan keluar dari kemiskinannya maka daya belinya meningkat, jika demikian roda perekonomian akan bergairah.
Untuk itu kita (para amilin zakat) tidak boleh diam berpangku tangan sambil menunggu sistem itu datang dari langit. Tidak, tidak demikian. Kitalah yang memulainya. Membuat derivat-derivat program yang mampu memberdayakan si miskin. Memberikan penyadaran terus menerus kepada orang-orang kaya untuk turut berkontribusi dalam sistem yang baik ini.

Kita meyakini bahwa zakat bukanlah pil ajaib yang akan mampu menyelesaikan berbagai problema masyarakat. Ia hanyalah bagian dari sistem Islam yang salah satu prinsipnya adalah keadilan.

Meski demikian, kita bersyukur bahwa sebagian besar program-program yang kita buat telah mengentas para mustahik menjadi muzakki. Menyelamatkan ribuan anak yang rawan putus sekolah. Mengobati ribuan warga miskin yang tak mampu berobat. Memberdayakan petani, nelayan, pedagang-pedagang kecil di pasar tradisional, para guru di pelosok desa terpencil yang mengajar dengan penuh kesungguhan di tengah himpitan ekonomi berkepanjangan, dan berbagai program kreatif kita yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat miskin.

Memang kontribusi itu masih secuil dibanding krisis ini, tapi setidaknya kita telah berhasil menunjukkan tata kelola organisasi yang baik. Menghimpun dana (zakat, infak, sedekah) masyarakat, mengelolanya, dan menyalurkannya melalui berbagai program inovatif.

Itu semua dilakukan bukan untuk sebesar-besar keuntungan pribadi ataupun organisasi melainkan untuk sebesar-besar maslahat umat. Untuk pemerataan kesejahteraan dan membumikan keadilan. Karena Al Quran telah menyebutkannya 14 abad yang lampau. “Likailaa yakuuna duulatan bainal aghniyaa’i minkum (agar harta itu jangan hanya beredar di kalangan orang-orang kaya di antara kamu saja).” (QS. Al Hasyr : 7). Wallahu a’lam

*) Pemimpin Redaksi Majalah inFOZ+